"My world"

...welcome to my blog...

Jumat, 17 Juni 2016

MAKALAH AUTOROOF a/2011

BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang Masalah
Di jaman modern ini semua kegiatan manusia dibuat serba praktis dengan adanya teknik otomatisasi. Otomatisasi adalah sebuah teknik yang bekerja secara otomatis berdasarkan respon tanpa adanya campur tangan manusia. Hal-hal yang sulit dikerjakan dan berbahaya pun dapat digantikan oleh teknik otomatisasi ini. Salah satu dari contoh teknik ini adalah Automatic Roof.
Automatic Roof adalah sebuah sistem yang mengatur buka dan tutup atap rumah sesuai kondisi cuaca. Salah satu contoh keuntungan dari alat ini adalah kita dapat menjemur pakaian dengan santai tanpa perlu khawatir pakaian kita akan kehujanan, karena atap akan menutup secara otomatis saat terjadi hujan.

1.2       Pembatasan Masalah
            Automatic Roof merupakan alat yang bekerja berdasarkan kondisi cahaya dan kondisi hujan. Oleh karena itu pembahasan tentang Automatic Roof disini hanya berkisar antara penggunaan sensor LDR dan sensor air, serta respon dari alat ini berupa Motor DC yang menggerakan atap dan tampilan kondisi cuaca di LCD Display.

1.3       Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan makalah ini adalah menjelaskan tentang cara pembuatan alat & teknik otomatisasi dari alat Automatic Roof yang menggunakan sensor LDR dan sensor air, berdasarkan pemrograman yang ditanamkan dalam mikrokontrolernya.





1.4       Metode Penulisan
Beberapa metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah:
1)      Studi Riset
Merancang pembuatan alat dengan menggambar rangkaian, membuat program dalam bahasa C untuk dikonfigurasikan ke dalam mikrokontroler ATMEGA8535, serta memasang komponen yang dibutuhkan dan selanjutnya akan diimplementasikan ke dalam alat berupa Automatic Roof.
2)      Studi Pustaka
Mendapatkan bahan penulisan tentang komponen-komponen yang akan digunakan untuk membuat Automatic Roof melalui buku atau situs-situs yang ada hubungannya dengan penulisan ilmiah ini.
3)      Wawancara atau Konsultasi
Mengadakan pertanyaan – pertanyaan kepada pengurus laboratorium dan staf - stafnya untuk mendapatkan informasi yang kami butuhkan, semisal, cara pembuatan jalur elektronik pada sebuah PCB, komponen yang seperti apa yang diperlukan, serta cara pembuatan program Automatic Roof.

1.5       Sistematika Penulisan
            Pada bagian ini kami akan mengemukakan tentang pokok-pokok uraian tugas penulisan makalah ini agar lebih mudah dipahami dan juga sebagai dasar pembahaan selanjutnya. Dalam penulisan ini kami menyajikan sistematika penulisan dengan kronologis sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan.



BAB II Landasan Teori
Bab ini menjelaskan tentang komponen-komponen yang digunakan, konfigurasi yang digunakan, dan juga teori-teori yang digunakan dalam pembuatan Automatic Roof ini.

BAB III Perancangan Sistem
Bab ini membahas mengenai perancangan sistem otomatisasi alat Auotomatic Roof yang terdiri dari analisa rangkaian secara diagram blok, analisa rangkaian secara detail dan analisa logika pemrograman.

BAB IV Cara Kerja Alat
Bab ini membahas tentang bagaimana alat Automatic Roof bekerja.

BAB V Penutup
Berisi tentang kesimpulan-kesimpulan dari penjelasan alat yang dibuat dan saran –saran pembuatan alat yang dibuat.























BAB II
LANDASAN TEORI


Pada bab ini akan diberikan penjelasan mengenai komponen-komponen yang digunakan untuk membuat alat Automatic Roof ini.
            Secara umum, alat ini terdiri dari Mikrokontroler, IC Driver, Motor DC dan sensor. Berikut ini akan diuraikan komponen-komponen yang mendukung alat Automatic Roof, antara lain:

2.1       Mikrokontroler
Mikrokontroler, secara harfiah berarti pengendali yang berukuran mikro. Mikrokontroler memiliki beberapa kesamaan dengan mikroprosesor. Perbedaannya yaitu mikrokontroler memiliki banyak komponen yang terintegrasi di dalamnya, misalnya timer/counter, sedangkan pada mikroprosesor, komponen tersebut tidak terintegrasi. Mikroprosesor umumnya terdapat pada komputer dimana tugas dari mikroprosesor adalah untuk memproses berbagai macam data input maupun output dari berbagai sumber. Mikrokontroler lebih sesuai untuk tugas-tugas yang lebih spesifik.
Mikrokontroler adalah salah satu dari bagian dasar dari suatu sistem komputer. Meskipun mempunyai bentuk yang jauh lebih kecil dari suatu komputer pribadi dan komputer mainframe, mikrokontroler dibangun dari elemen-elemen dasar yang sama. Secara sederhana, komputer akan menghasilkan output spesifik berdasarkan inputan yang diterima dan program yang dikerjakan.








gb21.gif (3390 bytes)
Gambar 2.1 Alur kerja mikrokontroler

            Mikrokontroler merupakan sebuah sistem computer yang seluruh atau sebagian besar elemennya dikemas dalam satu chip IC, sehingga sering disebut single chip microcomputer. Lebih lanjut mikrokontroler merupakan sistem computer yang memiliki satu atau beberapa tugas yang sangat spesifik, berbeda dengan PC yang memiliki beragam fungsi. Perbedaan lainnya adalah perbandingan RAM dan ROM yang sangat berbeda antara computer dengan mikrokontroler. Dalam mikrokontroler, ROM jauh lebih besar dibandingkan RAM, sedangkan dalam computer atau PC RAM jauh lebih besar dibanding ROM. Mikrokontroler dapat disebut sebagai “one chip solution” karena terdiri dari :
a.       CPU (central processing unit) ialah bagian yang paling penting dari suatu mikroprosesor, ia melakukan pemrosesan data.
b.      RAM (Random Access Memory) digunakan untuk menyimpan data sementara.
c.       EPROM/PROM/ROM (Erasable Programmable Read Only Memory) digunakan untuk menyimpan program yang bersifat permanent .
d.      I/O (input/output) - serial and parallel Unit ini berfungsi agar mikrokontroler dapat berkomunikasi dalam format serial atau paralel, sehingga dapat berkomunikasi dengan mudah dengan PC dan devais standar digital  lainnya.
e.       Timer berguna untuk mengatur pewaktuan  pada system berbasis mikrokontroler, misal untuk delay atau pencacah.
f.       Interrupt controller  berfungsi menangani suatu request pada saat mikrokontroler sedang running.

2.1.1 Jenis – Jenis Mikrokontroler
Mikrokontroler AVR (Alf and Vegard’s Risc Prosessor) merupakan salah satu perkembangan produk mikroelektronika dari vendor Atmel. AVR merupakan teknologi yang memiliki kemampuan baik dengan biaya ekonomis yang cukup minimal.
Secara umum AVR dapat dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu keluarga ATiny, keluarga AT90Sxx, Keluarga ATMega, dan AT86RFxx. Pada dasarnya yang membedakan masing-masing kelas adalah memori, peripheral, dan fungsinya. Dari segi arsitektur dan instruksi yang digunakan, mereka bisa dikatakan hampir sama. Pada rangkain ini penulis menggunakan mikrokontroler ATMega8535.

            2.1.2    Mikrokontroler AVR ATMEGA8535
Mikrokontroler AVR memiliki arsitektur RISC 8 bit, dimana semua instruksi dikemas dalam kode 16 bit dan sebagian besar instruksi dieksekusi dalam 1 (satu) siklus clock, berbeda dengan instruksi MCS51 yang membutuhkan 12 siklus clock. Tentu saja itu terjadi karena kedua jenis mikrokontroler tersebut memiliki arsitektur yang berbeda. AVR berteknologi RISC (Reduced Instruction Set Computing), sedangkan MCS 51 berteknologi CISC (Complex Instruction Set Computing).



2.1.2.1    Arsitektur ATMega 8353
Gambar 2.2 Pin mikrokontroler ATMega8535

            Dari gambar 2.2 dapat dilihat bahwa ATMega8535 memiliki bagian sebagai berikut:
1)      Saluran I/O sebanyak 32 buah, yaitu port A, Port B, Port C, dan Port D.
2)      ADC 10 bit sebanyak 8 saluran.
3)      Tiga buah Timer/Counter dengan kemampuan pembandingan.
4)      CPU yang terdiri atas 32 buah register.
5)      Watchdog Timer dengan Osilator Internal.
6)      SRAM sebanyak 512 byte.
7)      Memori Flash sebesar 8 kb dengan kemampuan Read While Write.
8)      Unit Interupsi internal dan eksternal.
9)      Port antarmuka SPI.
10)  EEPROM sebesar 512 byte yang dapat diprogram saat operasi.
11)  Antarmuka komparator analog.
12)  Port USART untuk komunikasi serial.

2.1.2.2    Fitur ATMega8535
                        Kapabilitas detail dari ATMega8535 adalah sebagai berikut:
1)      Sistem mikroprosessor 8 bit berbasis RISC dengan kecepatan maksimal 16 MHz.
2)      Kapabilitas memori Flash 8 KB, SRAM sebesar 512 byte, dan EEPROM (Electrically Erasable Programmable Read Only Memory) sebesar 512 byte.
3)      ADC Internal dengan fidelitas 10 bit sebanyak 8 saluran.
4)      Portal komunikasi serial (USART) dengan kecepatan maksimal 2,5 Mbps.
5)      Enam pilihan mode sleep menghemat penggunaan daya listrik.  

Gambar 2.3 Blok diagram fungsional ATMega8535


2.1.2.3    Konfigurasi Pin ATMEGA8535
Konfigurasi pin ATMega8535 bisa dilihat pada gambar 2.2. Dari gambar tersebut dapat dijelaskan secara fungsional konfigurasi pin ATMega8535 sebagai berikut:
1)      VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan catu daya.
2)      GND merupakan pin ground.
3)      Port A (PA0..PA7) merupakan pin I/O dua arah dan pin masukan ADC.
4)      Port B (PB0..PB7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus, yaitu Timer/Counter, komparator analog, dan SPI.
5)      Port C (PC0..PC7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus, yaitu TWI, komparator analog, dan Timer Oscilator.
6)      Port D (PD0..PD7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus, yaitu komparator analog, interupsi eksternal, dan komunikasi serial.
7)      RESET merupakan pin yang digunakan untuk mereset mikrokontroler.
8)      XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock eksternal.
9)      AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC.
10)  AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC.

2.1.2.4    Peta Memori ATMEGA8535
AVR ATMega8535 memiliki ruang pengalamatan memori data dan memori program yang terpisah. Memori data terbagi menjadi 3 buah bagian, yaitu 32 buah register umum, 64 buah register I/O, dan 512 byte SRAM Internal.
Register keperluan umum menempuh space data pada alamat terbawah, yaitu $00 sampai $1F. Sementara itu, register khusus untuk menangani I/O dan kontrol terhadap mikrokontroler menempati 64 alamat berikutnya, yaitu mulai dari $20 hingga $5F. Register tersebut merupakan register yang khusus digunakan untuk mengatur fungsi terhadap berbagai peripheral mikrokontroler, seperti kontrol register, timer/counter, fungsi-fungsi I/O, dan sebagainya. Alamat memori berikutnya digunakan untuk SRAM 512 byte, yaitu pada lokasi $60 sampai dengan $25F. Konfigurasi memori data dapat ditunjukkan pada gambar 2.4 dibawah ini.  
Gambar 2.4 Konfigurasi Memori Data AVR ATMega8535

Memori program yang terletak dalam flash PEROM tersusun dalam word atau 2 byte karena setiap instruksi memiliki lebar 16-bit atau 32 bit. AVR ATMega8535 memiliki 4Kbyte x 16-bit Flash PEROM dengan alamat mulai dari $000 sampai $FFF. AVR tersebut memiliki 12-bit Program Counter (PC) sehingga mampu mengalamati isi Flash. Gambar 2.5 merupakan konfigurasi memori program dari AVR ATMega8535.  
Gambar 2.5 Memori program AVR ATMega8535

Selain itu, AVR ATMega8535 juga memiliki memori data berupa EEPROM 8-bit sebanyak 512 byte. Alamat EEPROM dimulai dari $000 sampai $1FF.

2.1.2.5    Status Register (SREG)
Status Register adalah register berisi status yang dihasilkan pada setiap operasi yang dilakukan ketika suatu instruksi dieksekusi. Gambar 2.6 merupakan gambar konfigurasi dari status register ATMega8535.  
Gambar 2.6 Status Register ATMega8535

1)      Bit 7-I: Global Interrupt Enable
Bit harus diset untuk mengaktifkan interupsi. Setelah itu, anda dapat mengaktifkan interupsi mana yang akan anda gunakan dengan cara meng-enable bit kontrol register yang bersangkutan secara individu. Bit akan di-clear apabila terjadi suatu interupsi yang dipicu oleh Hardware, dan bit tidak akan mengizinkan terjadinya interupsi, serta akan diset kembali oleh instruksi RETI.
2)      Bit 6-T: Bit Copy Storage
Instruksi BLD dan BST menggunakan bit-T sebagai sumber atau tujuan dalam operasi bit. Suatu bit dalam sebuah register GPR dapat disalin ke bit T menggunakan instruksi BST, dan sebaliknya bit-T dapat disalin kembali ke suatu bit dalam register GPR menggunakan instruksi BLD.
3)      Bit 5-H: Half Carry Flag
4)      Bit 4-S: Sign Bit
Bit-S merupakan hasil operasi EOR antara flag-N (Negatif) dan flag V (Komplemen dua overflow).
5)      Bit 3-V: Two’s Complement Overflow Flag
Bit ini berguna untuk mendukung operasi aritmatika.
6)      Bit 2-N: Negative Flag
Apabila operasi menghasilkan bilangan negatif, maka flag-N akan diset.
7)      Bit I-Z: Zero Flag
Bit akan diset bila hasil operasi yang diperoleh adalah nol.
8)      Bit 0-C: Carry Flag
Apabila suatu operasi menghasilkan carry, maka bit akan diset.

2.1.2.6    Input / Output Port
Port I/O mikrokontroler ATMega8535 dapat difungsikan sebagai input ataupun output dengan keluaran high atau low. Untuk mengatur fungsi port I/O sebagai input ataupun output. Perlu dilakukan setting pada DDR dan port. Tabel 2.1 merupakan tabel pengaturan port I/O:



Tabel 2.1 Konfigurasi Setting untuk Port I/O

Dari tabel diatas, menyetting input/output adalah:
1)      Input; DDR bit 0 dan port bit 1
2)      Output High; DDR bit 1 dan Port bit 1
3)      Output Low; DDR bit 1 dan Port bit 0
Logika Port I/O dapat diubah-ubah dalam program secara byte atau hanya bit tertentu. Mengubah sebuah keluaran bit I/O dapat dilakukan menggunakan perintah cbi (clear bit I/O) untuk menghasilkan output low atau perintah sbi (set bit I/O) untuk menghasilkan output high. Pengubahan secara byte dilakukan dengan perintah in atau out yang menggunakan register Bantu. Port I/O sebagai output hanya memberikan arus sourching sebesar 20 mA.

2.1.2.7    Pemrograman pada AVR ATMEGA 8535
Untuk melakukan pemrograman dalam mikrokontroler AVR, Atmel telah menyediakan software khusus yang dapat diunduh dari website resmi Atmel. Software tersebut adalah AVRStudio. Software ini menggunakan bahasa assembly sebagai bahasa perantaranya. Selain AVRStudio, ada beberapa software pihak ketiga yang dapat digunakan untuk membuat program pada AVR. Software dari pihak ketiga ini menggunakan bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti bahasa C, Java, atau Basic. Untuk melakukan pemindahan dari komputer ke dalam chip, dapat digunakan beberapa cara seperti menggunakan kabel JTAG atau menggunakan STK buatan ATMEL.
Bahasa C dikembangkan pertama kali pada laboratorium Bell (USA) sekitar tahun 1972 oleh Dennis Ritchie pada komputer DEC PDP-11 dengan sistem operasi UNIX. Beberapa versi C mulai dikembangkan oleh beberapa pakar untuk dijalankan pada sistem operasi selain UNIX, seperti PC-DOS dan MS-DOS. Untuk melaksanakan pembakuan (standardisasi) terhadap bahasa C, ANSI (American National Standards Institute) membentuk team untuk membuat bahasa C standard ANSI, yang dimulai tahun 1983. Standard ANSI inilah yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dari berbagai versi C yang beredar dewasa ini.

2.2       Komponen-komponen Dasar Automatic Roof
            2.2.1    Resistor
            Resistor merupakan sebuah kemponen elektronika yang termasuk komponen pasif yang mempunyai sifat menghambat arus listrik. Dalam sebuah rangkaian elektronika, resister berfungsi sebagai :
1.        Sebagai pembagi arus
2.        Sebagai pembagi tegangan
3.        Sebagai penurun tegangan
4.        Sebagai penghambat aliran arus listrik dan lain-lain.
Satuan nilai dari resistor adalah ohm, biasa disimbolkan Ω. Besarnya nilai hambatan pada resistor biasanya disebut dengan resistansi
Berdasarkan  jenisnya  resistor dibagi menjadi dua jenis yaitu : Resistor Tetap dan Resistor Variabel.
resistorratings_03.jpg
resistor tetap.png
 

                                  Resistor tetap
resistor tidak tetap.png
 


                                                                                                                       Contoh gambar resistor
    Resistor tidak tetap
Gambar 2.7 Resistor

Tabel 2.2 Tabel kode warna resistor
Warna
Gelang Ke-
1,2,3
4
5
Hitam
0
X 1
-
Coklat
1
X 10
1 %
Merah
2
X 100
2 %
Jingga
3
X 1000
-
Kuning
4
X 10000
-
Hijau
5
X 100000
-
Biru
6
X 1000000
-
Ungu
7
X 10000000
-
Abu-abu
8
X 100000000
-
Putih
9
X 1000000000
-
Emas
-
X 0.1
5 %
Perak
-
X 0.001
10 %
Tak berwarna
-
-
20 %

2.2.2    Kapasitor
Kapasitor adalah komponen elektronika yang mampu menyimpan arus dan tegangan listrik untuk sementara waktu. Seperti juga halnya resistor, kapasitor termasuk salah satu komponen pasif yang banyak digunakan dalam membuat suatu rangkaian.
Fungsi kapasitor
             Pemasangan kapasitor pada suatu rangkaian mempunyai maksud dan tujuan di antaranya :
1.        Sebagai penghubung (coupling) yang menghubungkan masing-masing bagian dalam suatu rangkaian.
2.        Memisahkan arus bolak-balik dari arus searah.
3.        Sebagai filter yang dipakai pada rangkaian catu daya.
Seperti halnya hambatan, kapasitor dapat dibagi menjadi dua yaitu;
1)      kapasitor tetap
2)      kapasitor variabel
Kapasitor tetap adalah kapasitor yang memiliki nilai kapasitas tetap. Kapasitor tetap memiliki dua jenis yaitu bentuk polar dan nonpolar. Perbedaan antara bentuk polar dan nonpolar adalah Kapasitor polar memiliki dua buah kaki yang berbeda jenis yaitu positif dan negative. Kapasitor tetap bentuk nonpolar adalah kapasitor yang memiliki dua buah kaki yang sejenis atau dengan kata lain tidak memiliki kutub positif ataupun kutub negative.
 



a.       symbol kapasistor polar                  b. Simbol kapasitor Nonpolar
           Gambar 2.8 Simbol kapasitor polar dan non polar






Gambar 2.9 Kapasitor

            2.2.3    XTAL
            AVR ATMEGA 8535 memiliki osilator internal yang dapat digunakan sebagai sumber clock bagi CPU. Untuk menggunakan osilator internal, diperlukan sebuah kristal atau resonator keramik antara pin XTAL 1 dan XTAL2 (pin 18 dan 19) yang akan dipasangkan dengan kapasitor yang dihubungkan ke ground.
Gambar 2.10 Simbol Kristal

           Untuk jangkauan frekuensi operasi mikrokontroller ini adalah antara 6Mhz sampai dengan 24Mhz. Sedangkan untuk pasangan kapasitornya dapat digunakan kapasitor keramik yang bernilai antara 27 pF sampai dengan 33 pF.

2.2.4    Sensor Air
Sensor adalah suatu alat atau rangkaian alat yang dipakai untuk merubah suatu besaran tertentu menjadi besaran lai dengan cara “merasakan / mendeteksi” dalam bahasa inggris disebut to sense. Artinya jika pada suatu ketika ada sesuatu atau benda yang lewat pada jangkauannya (terukur) maka sensor akan mersakan / mendeteksi sesuatu tersebut tanpa harus mengetahui benda apa yang melewatinya. Kemudian setelah dia merasakan atau mendeteksi maka hasilnya dikirim ke rangkaian selanjutnya untuk dijadikan suatu referensi masukan pada rangkaian tersebut. Secara umum system kerja sensor mirip dengan kerjanya suatu switch ada kondisi NO, NC dan Common.
Rangkaian sensor air merupakan jalur pcb yang dirangkai sangat berdekatan, namun tidak terhubung, dan dilapisi timah agar tembaga jalur pcb tersebut tidak terkorosi oleh air hujan nantinya. Ketika air hujan menggenangi jalur timah yang berdekatan tersebut, maka jalur tersebut menjadi terhubung satu sama lain dikarenakan sifat air sebagai konduktor yang baik.

            2.2.5    Light Dependent Resistor (LDR)
            Light Dependent Resistor atau disebut LDR adalah sejenis resistor yang tidak linear dan pada umumnya dipergunakan pada rangkaian yan berhubungan dengan saklar. LDR akan memiliki nilai resistansi yang cukup besar apabila permukaannya tidak terkena cahaya, dan bila permukaannya terkena cahaya maka resistansinya akan kecil. Dari karakteristik, LDR dapat juga disebut sebagai sensor cahaya. Dalam elektronika LDR dapt digolongkan sebagai tranduser. Dimana tranduser adalah komponen atau alat yang dapat mengubah besaran fisis non elektris menjadi besaran fisis elektris.
 







Gambar 2.11 Bentuk dan simbol LDR (Light Dependent Resistor)



2.2.6    Switch
Switch atau saklar adalah suatu komponen elektronika yang digunakan sebagai penghubung dan pemutus tegangan . Switch yang di gunakan pada rangkaian ini adalah switch push on. Pada switch push on apabila tombol ditekan maka titik A dan titik B akan terhubung.
Gambar 2.12 Bentuk switch

2.2.7    Trimpot
Trimpot termasuk resistor tidak tetap,yaitu resistor yang nilai hambatannya dapat diubah-ubah atau tidak tetap.caranya dengan memutar porosnya menggunakan obeng. Untuk mengetahui nilai hambatan dari suatu trimpot dapat dilihat dari angka yang tercantum pada badan trimpot tersebut. Pada alat ini trimpot berfungsi sebagai pengatur kesensitifan sensor dan menyebabkan arus dapat mengalir dari sumber tegangan Vcc 5Volt ke trimpot, dan sebaliknya pada saat output mikrokontroler ‘high’ atau +5 V, maka saklar tidak aktif dan menyebabkan arus tidak dapat mengalir dari sumber tegangan Vcc 5V.


Gambar 2.13 Bentuk dan simbol trimpot

            2.2.8    Motor DC
Motor DC adalah motor yang memerlukan suplai tegangan searah pada kumparan jangkar dan kumparan medan untuk diubah menjadi energi mekanik. Motor DC terdapat dalam berbagai ukuran dan kekuatan, masingmasing didisain untuk keperluan yang berbeda-beda namun secara umum memiliki berfungsi dasar yang sama yaitu mengubah energi elektrik menjadi energi mekanik. Sebuah motor DC sederhana dibangun dengan menempatkan kawat yang dialiri arus di dalam medan magnet.kawat yang membentuk loop ditempatkan sedemikian rupa diantara dua buah magnet permanen.Bila arus mengalir pada kawat, arus akan menghasilkan medan magnet sendiri yang arahnya berubah-ubah terhadap arah medan magnet permanen sehingga menimbulkan putaran.
Gambar 2.14 Bentuk Motor DC

            2.2.9    IC L293D
IC L293D ini membutuhkan tegangan kerja sebesar 5 Volt dengan arus maksimal kurang lebih 1A. Dalam rangkaian ini kita menggunakan dua buah motor DC +12V untuk menggerakkan atap kiri dan atap kanan. Tetapi kita menemukan fakta bahwa kecepatan putar motor tersebut cukup tinggi. Maka disini kita membutuhkan gear-gear yang didesain khusus untuk dapat memperlambat kecepatan perputaran motor tersebut atau kita dapat mengakali mekanika dari desain atap tersebut.
Gambar 2.15 Gambar & Skematic L293D
Gambar 2.16 Blok Diagram L293D

     Gambar 2.17 Skematik Input dan Output L293D

            2.2.10  IC LM 339
            IC LM 339 merupakan sebuah IC yang berisi 4 buah rangkaian comparator. Pada proyek ini LM 339 digunakan pada rangkain sensor, dan hanya memakai 2 rangkaian comparator, dengan input pada pin 4-7 dan outputnya pada pin 1 dan 2.
Gambar 2.18 Konfigurasi pin LM339

            Satu buah komparator terdiri dari 2 input, yaitu Vin (input masukan dari sensor) dan Vref (tegangan referensi). Pada dasarnya, jika tegangan Vin lebih besar dari Vref, maka Vo akan mengeluarkan logika 1 yang berarti 5 Volt atau setara dengan Vcc. Sebaliknya, jika tegangan Vin lebih kecil dari Vref, maka output Vo akan mengeluarkan logika 0 yang berarti 0 Volt.















BAB III
PERANCANGAN SISTEM


Dalam pembuatan sebuah alat elektronika yang berbasis mikrokontroler, ada 2 hal penting yang harus diperhatikan yaitu cara kerja alat tersebut dari tahap input hingga output, dan juga bentuk pemrograman yang ditanamkan. Seperti halnya pada alat Automatic Roof ini.
Analisa tentang bagaimana rangkaian Automatic Roof bekerja mulai dari input hingga output, penjelasan secara detailnya, dan juga logika pemrogramannya akan dijelaskan sebagai berikut.

3.1              Analisa Rangkaian secara Blok Diagram
Berikut ini adalah penjelasan mengenai rangkaian Automatic Roof berdasarkan blok diagram:

Gambar 3.1 Blok diagram rangkaian Automatic Roof

3.1.1        Input
Input disini berupa sumber tegangan untuk mengaktifkan seluruh komponen elektronika Automatic Roof. Sumber tegangan Automatic Roof terbagi dua yaitu tegangan 5 V dan 12 V. Sumber tegangan 5 V ini digunakan untuk mengaktifkan switch1, switch2,


sensor LDR, sensor air, IC LM339, VCC1 IC L293, IC mikrokontroler ATMEGA8535, dan Reset ATMEGA8535, Sedangkan sumber tegangan 12 V digunakan sebagai masukan VCC2 IC L293.

3.1.2        Sensor
Di blok sensor ini terdapat sensor air dan sensor cahaya (LDR). Kedua sensor ini berfungsi sebagai sumber inputan logika untuk ATMEGA8535. Pada sensor cahaya, Jika LDR menerima cahaya maka LDR akan menghasilkan logika HIGH untuk inputan ATMEGA8535, dan logika LOW jika LDR tidak menerima cahaya.
Pada sensor air, jika sensor air terkena air, maka sensor air akan menghasilkan logika LOW untuk inputan ATMEGA8535, dan logika HIGH jika sensor tidak terkena air.

3.1.3        Mikrokontroler
Mikrokontroler ATMEGA8535 disini berfungsi sebagai kontrol pusat dari seluruh kegiatan Automatic Roof. Seluruh inputan logika yang masuk ke ATMEGA8535, diproses, dan kemudian ditentukan output yang tepat berdasarkan pemrograman yang ditanamkan dalam mikrokontroler ATMEGA8535 ini.

3.1.4        Output
Output atau keluaran dari alat Automatic Roof ini berupa pergerakan motor DC untuk membuka / menutup atap, dan pemberitahuan kondisi cuaca lewat LCD display.

3.2              Analisa Rangkaian secara Blok Detail
            Berikut ini adalah penjelasan mengenai cara kerja alat Automatic Roof secara detail dan bertahap mulai dari input sumber tegangan sampai output berupa perputaran Motor DC dan tampilan di LCD display.
Gambar 3.2 Blok detail rangkaian Automatic Roof

            Penjelasan mengenai cara kerja Automatic Roof (berdasarkan pada gambar 3.2) terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu:
1)      Tahap pertama, yaitu mengalirkan sumber tegangan ke Switch1, Switch2, VCC1 & VCC2 L293, LCD Display, LM339, LDR, Sensor Air, Trimpot, VCC, AVCC, & RESET ATMEGA8535.
2)      Tahap kedua, yaitu membangkitkan clock ATMEGA8535 melalui XTAL1 dan XTAL2 agar ATMEGA8535 dapat mengeksekusi instruksi yang ada di memori, dimana tingginya nilai kristal dapat mempercepat proses eksekusi.
3)      Tahap ketiga, yaitu menentukan input logika untuk ATMEGA8535. Pada IC LM339, respon sensor LDR dijadikan sebagai input (-) IC LM339, dan arus listrik yang melalui trimpot dijadikan sebagai input (+) IC LM339. Kedua input ini akan diproses dan dibandingkan oleh LM339 untuk menghasilkan output yang dijadikan sebagai input logika ATMEGA8535 di PORTA.0. Sedangkan sensor air dijadikan dijadikan sebagai input logika ATMEGA8535 di PORTA.1.
4)      Tahap keempat, yaitu memproses 2 input logika ATMEGA8535 untuk menentukan output yang tepat sesuai dengan pemrograman Automatic Roof. Berikut ini adalah tabel mengenai input dan output Automatic Roof.
5)      Tahap kelima, yaitu menentukan output ATMEGA8535. Output di PORT C ATMEGA8535 digunakan sebagai input LCD display. Sedangkan, output di PORT B ATMEGA8535 digunakan sebagai input L293 untuk menggerakan Motor DC 12V. IC L293 ini berfungsi sebagai penguat tegangan yang masuk ke IC L293, sehingga tegangan +5V dapat memutar Motor DC 12V dengan menambahkan tegangan +12V yang masuk ke IC L293.
6)      Tahap Keenam, yaitu menghentikan pergerakan Motor DC jika pergerakan atap mencapai batasnya dengan cara memberikan logika input ke ATMEGA8535 saat atap menyentuh Switch tertentu. Untuk menghentikan pergerakan menutup atap, maka Switch yang digunakan adalah Switch1, dan Switch2 untuk menghentikan pergerakan membuka atap. 

3.3              Analisa Logika Pemrograman
Pemrograman memiliki peranan penting dalam menjalankan sistem input dan juga output dari alat yang berbasis mikrokontroler ini. Begitu juga dengan Automatic Roof ini yang diprogram menggunakan bahasa pemrograman C. Berikut ini adalah diagram flowchart rancangan pemrograman Automatic Roof beserta penjelasannya.

3.3.1    Rancangan Pemrograman dan Penjelasannya

Gambar 3.3 Gambar Flowchart1 rangkaian Automatic Roof

Gambar 3.4 Gambar Flowchart2 rangkaian Automatic Roof





            Berikut ini adalah penjelasan tentang Flowchart program Automatic Roof ini:
1)      Langkah pertama adalah tentukan apakah sumber tegangan DC aktif (Power ON) atau tidak. Jika aktif, lanjutkan ke langkah berikutnya, dan jika tidak, akhiri program.
2)      Langkah Kedua adalah menentukan apakah cahaya matahari terang dan kondisi cuaca cerah. Jika 2 kondisi tersebut terpenuhi, maka buka atap rumah, tampilkan “TERANG CERAH” pada LCD display, dan kembali ke Langkah Pertama. Jika 2 kondisi tersebut tidak terpenuhi, loncat ke Langkah Ketiga.
3)      Langkah Ketiga adalah menentukan apakah cahaya matahari terang dan kondisi cuaca hujan. Jika 2 kondisi tersebut terpenuhi, maka tutup atap rumah, tampilkan “TERANG HUJAN” pada LCD display, dan kembali ke Langkah Pertama. Jika 2 kondisi tersebut tidak terpenuhi, loncat ke Langkah Keempat.
4)      Langkah Keempat adalah menentukan apakah cahaya matahari redup dan kondisi cuaca cerah. Jika 2 kondisi tersebut terpenuhi, maka tutup atap rumah, tampilkan “GELAP CERAH” pada LCD display, dan kembali ke Langkah Pertama. Jika 2 kondisi tersebut tidak terpenuhi, loncat ke Langkah Kelima.
5)      Langkah Kelima adalah menentukan apakah cahaya matahari redup dan kondisi cuaca hujan. Jika 2 kondisi tersebut terpenuhi, maka tutup atap rumah, tampilkan “GELAP HUJAN” pada LCD display, dan kembali ke Langkah Pertama.

3.3.2    Bentuk Jadi Pemrograman Automatic Roof dan Penjelasannya
#include <mega8535.h>
#include <lcd.h>

#asm
    .equ __lcd_port=0x15;PORTC
#endasm

void main (void)
{
    DDRA=0x00;
    PORTA=0xFF;
    DDRB=0xFF;
    PORTB=0x00;
    DDRC=0x00;
    PORTC=0x00;
    PORTD=0xFF;
    DDRD=0xFF;
   
    lcd_init (16);
    lcd_gotoxy(0,0);
    lcd_putsf("=AUTOMATIC ROOF=");
   
while (1)
{
switch(PINA)
{
case 0xFA: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP  CERAH=");
break;

case 0xFE: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP  CERAH=");
break;

case 0xF6: PORTB=0x00;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP  CERAH=");
break;

case 0xF9: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG HUJAN=");
break;

case 0xFD: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG HUJAN=");
break;


case 0xF5: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG HUJAN=");
break;


case 0xF8: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP HUJAN=");
break;


case 0xFC: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP HUJAN=");
break;


case 0xF4: PORTB=0x00;
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf("=GELAP HUJAN=");
break;


case 0xF7: PORTB=0x10;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG CERAH=");
break;

case 0xFF: PORTB=0x10
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG CERAH=");
break;

case 0xFB: PORTB=0x00;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG CERAH=");
break;
default:PORTB=0x20;lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf("Thanks");
}
}
}
}







BAB IV
CARA KERJA ALAT


            Automatic Roof bekerja dengan cara otomatisasi sesuai pemrograman yang ditanamkan ke dalamnya. Untuk dapat melihat teknik otomatisasi dari Automatic Roof ini, lakukan langkah-langkah berikut: 
1)      Aktifkan sumber tegangan +5V dan +12V
2)      Biarkan sensor LDR tidak terkena cahaya (sebagai simulasi langit mendung), dan perhatikan output apa yang dihasilkan oleh Automatic Roof. Kemudian, arahkan sinar lampu atau senter (sebagai simulasi langit terang) ke sensor LDR, dan perhatikan output apa yang dihasilkan oleh Automatic Roof.
3)      Biarkan sensor air tidak terkena air (sebagai simulasi cuaca cerah), dan perhatikan output apa yang dihasilkan oleh Automatic Roof. Selanjutnya, percikan sedikit air (sebagai simulasi cuaca hujan) ke sensor air, dan perhatikan output apa yang dihasilkan oleh Automatic Roof.
















            Berikut ini adalah tabel tentang output Automatic Roof, berupa pergerakan menutup atau mebuka atap dan tampilan di LCD, berdasarkan 2 kondisi sensor, yaitu sensor LDR dan sensor air.

Tabel 4.1 Input & Output Automatic Roof
No.
Input
Output
Sensor 1 (LDR)
Sensor 2 (Sensor air)
Atap
LCD
1
Terang
Kering
Terbuka
TERANG CERAH
2
Terang
Basah
Tertutup
TERANG HUJAN
3
Gelap
Kering
Tertutup
GELAP  CERAH
4
Gelap
Basah
Tertutup
GELAP HUJAN

Keterangan:
Nomor 1:   Apabila sensor LDR terkena cahaya dan sensor air kering, maka outputnya yaitu buka atap dan tampilkan ”TERANG CERAH”.
Nomor 2:   Apabila sensor LDR terkena cahaya dan sensor air tidak kering, maka outputnya yaitu tutup atap dan tampilkan TERANG HUJAN”.
Nomor 3:   Apabila sensor LDR tidak terkena cahaya dan sensor air kering, maka outputnya yaitu tutup atap dan tampilkan ”GELAP CERAH”.
Nomor 4:   Apabila sensor LDR tidak terkena cahaya dan sensor air tidak kering, maka outputnya yaitu tutup atap dan tampilkan ”GELAP HUJAN”.


BAB V
PENUTUP


5.1              Kesimpulan
   Automatic Roof merupakan sebuah alat yang bekerja berdasarkan kondisi cahaya dan kondisi hujan dimana output atau keluaran dari alat Automatic Roof ini berupa pergerakan motor DC untuk membuka dan menutup atap yang nantinya ada pemberitahuan kondisi cuaca lewat LCD display. Berikut ini adalah output dari alat Automatic Roof:
1)      Jika sensor LDR terkena cahaya dan sensor air kering, maka buka atap dan tampilkan ”TERANG CERAH”.
2)      Jika sensor LDR terkena cahaya dan sensor air tidak kering, maka tutup atap dan tampilkan ”GELAP CERAH”.
3)      Jika sensor LDR tidak terkena cahaya dan sensor air kering, maka tutup atap dan tampilkan ”TERANG HUJAN”.
4)      Jika LDR tidak terkena cahaya dan sensor air tidak kering, maka  tutup atap dan tampilkan ”GELAP HUJAN”

5.2       Saran
1)      Dalam pembuatan alat sangat diperlukan ketelitian agar dalam penyusunannya menghasilkan hasil yang baik.
2)      Disarankan dalam melakukan pengetesan alat membawa cadangan komponen lebih terutama pada komponen-komponen yang mudah rusak.
3)      Dibutuhkan kerja sama tim agar penyelesaian alatnya berjalan baik






DAFTAR PUSTAKA


Wardhana, Lingga. Belajar Sendiri Mikrokontroler AVR seri ATMEGA8535. Yogyakarta. Penerbit ANDI. 2006.
Budiharto, Widodo. Paduan Praktikum Mikrokontroler AVR ATMEGA16. Jakarta. Elex Media Komputindo. 2008.
Prihono. Jago Elektronika secara Otodidak. Jakarta. Kawan Pustaka. 2009.
























35
 
 



36
 
LAMPIRAN


Listing Program Automatic Roof menggunakan bahasa pemrograman C untuk AVR:
#include <mega8535.h>
#include <lcd.h>

#asm
    .equ __lcd_port=0x15;PORTC
#endasm

void main (void)
{
    DDRA=0x00;
    PORTA=0xFF;
    DDRB=0xFF;
    PORTB=0x00;
    DDRC=0x00;
    PORTC=0x00;
    PORTD=0xFF;
    DDRD=0xFF;
   
    lcd_init (16);
    lcd_gotoxy(0,0);
    lcd_putsf("=AUTOMATIC ROOF=");
   
while (1)
{
switch(PINA)
{
case 0xFA: PORTB=0x20;

37
 
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP  CERAH=");
break;

case 0xFE: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP  CERAH=");
break;

case 0xF6: PORTB=0x00;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP  CERAH=");
break;

case 0xF9: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG HUJAN=");
break;

case 0xFD: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG HUJAN=");
break;


case 0xF5: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG HUJAN=");
break;


case 0xF8: PORTB=0x20;

38
 
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP HUJAN=");
break;


case 0xFC: PORTB=0x20;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=GELAP HUJAN=");
break;


case 0xF4: PORTB=0x00;
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf("=GELAP HUJAN=");
break;


case 0xF7: PORTB=0x10;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG CERAH=");
break;

case 0xFF: PORTB=0x10
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG CERAH=");
break;

case 0xFB: PORTB=0x00;
lcd_gotoxy(1,1);
lcd_putsf("=TERANG CERAH=");
break;
default:PORTB=0x20;lcd_gotoxy(0,1);

39
 
lcd_putsf("Thanks");
}
}
}



 

SEMOGA BERMANFAAT BUAT ADEK-ADEK YANG MAU BELAJAR SISTEM TERTANAM













Tidak ada komentar:

Posting Komentar